Kunai

Rabu, 31 Oktober 2018

PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN DAN KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN OLEH GURU






Oleh
Muhammad HaqinNazili 0717011041
Lulu’ IstsniatiMufarokha 0717010761
Widi Astuti 0717010981





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Segala pujibagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpahcurahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kitananti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penyususn mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Profesi Keguruan dengan judul “Peran Guru dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Oleh Guru”.
Penyusun tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penyusun mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada dosen Ibu Dewi Mardhiyana, M.Pd yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terimakasih.


Pekalongan, 9 Oktober 2018

Penyusun










DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang...................................................................................................................1
Rumusan Masalah..............................................................................................................1
Tujuan ...............................................................................................................................2
BAB II : PEMBAHASAN
PerandanTugasPokok Guru...........................................................................................3
Kesalahan Yang SeringDilakaukanOleh Guru...............................................................5
BAB III : PENUTUP

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………10
3.2 Saran……………………………………………………………………………………..10

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................11


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Guru merupakan salah satu komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Guru memegang peranan yang cukup penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum ( Mulyasa dalam Syaodih, 1998: 13). Menurut Undang-undang Sisdiknas tentang guru No. 20 Tahun 2003 pasal 39 menyatakan bahwa (1) guru merupakan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan tugas administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan, (2) guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik dan perguruan tinggi ( Mulyasa, 2008 : 197).
Selain guru sebagai perencana dan pengembang, ada  berbagai peranan yang harus dilakukan oleh guru diantaranya guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, inovator, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pemindah kemah, emansipator, dan guru sebagai pengawet. Semua peranan guru sangat penting dan harus dimiliki serta dilakukan oleh guru. Guru dikatakan berhasil jika dia mampu menjalankan perannya dengan baik.
Terlepas dari peranan guru, terkadang guru secara tidak sadar melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Sebagai manusia biasa, tentu saja guru tidak akan terlepas dari kesalahan baik dalam berperilaku maupun dalam melaksanakan tugas pokoknya mengajar. Namun demikian, bukan berarti kesalahan guru harus dibiarkan dan tidak dicarikan cara pemecahannya. Guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan.
Dari berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa sedikitnya terdapat tujuh kesalahan yang sering dilakukan oleh guru dalam pembelajaran. Kesalahan tersebut adalah mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, menunggu peserta didik berperilaku negatif, menggunakan destruktif disiplin, mengabaikan kebutuhan- kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,merasa diri paling pandai di kelasnya, tidak adil (diskriminatif), serta memaksa hak peserta didik. Untuk lebih jelasnya maka dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan guru yaitu peranan guru dan kesalahan yang sering dilakukan oleh guru.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimanakah peranan guru dalam pembelajaran?
 Apa sajakah kesalahan guru yang sering dilakukan?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui dan memahami peranan guru dalam pembelajaran.
Untuk mengetahui dan memahami 7 kesalahan guru yang sering dilakukan.




































BAB II
PEMBAHASAN

Peran dan Tugas Pokok Guru
(Mulyasa. (2011) Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.)
Guru Sebagai Pengajar
Guruharus menampilkan pribadinya sebagai cendikiawan (scholar) dan sekaligus juga sebagai pengajar (teacher). Dengan demikian yang bersangkutan itu harus menguasai :
Bidang displin ilmu (scientificdiscipline) yang akan diajarkannya, baik aspek subtansinya maupun metodologi penelitian dan pengembangannya.
Cara mengajarkan kepada orang lain atau bagaimana cara mempelajarinya.
GuruSebagai Pengajar dan Sebagi Pendidik
Ia harus menampilkan pribadinyq sebagai ilmuan daan sekaligus sebagai pendidik , sebagai berikut :
Menguasai bidang displin ilmu yang diajarkannya.
Menguasai cara mengajarkan dan mengadministrasikannya.
Ilmu wawasan dan pemahaman tentang seluk beluk kependidikan, dengan mempelajari : filsafat pendidikan, sejarah pendidikan, sosiologi pemdidikan, dan psikologi pendidikan.
Konsorsium ilmu pendidikan (yang di kembangkan olehT. Raka Joni,1992) mengetengahkan unsur-unsur program pendidikan guru itu hendaknya mencakup :
Bidang kajian umum yang berlaku bagi setiap program study di jenjang pendidikan yang tinggi (MKDU).
Bidang ilmu sebagai sumber bahan ajar (MKK-bidang study)
Bidang pemahaman mendalam atas peserta didik (MKDK-kependidikan).
Bidang teori dan keterampilan keguruan (MKK-keguruan)
Guru Sebagai Pengajar, Pendidik dan juga Agen Pembaharuan dan Pembangunan Masyarakat
Yang bersangkutan diharapkan dapat menampilkan pribadinya sebagai pengajar dan pendidik siswanya dalam berbagai situasi (individual dan kelompok, di dalam dan di luar kelas, formal dan non-formal, serta informal) sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi objektif siswa dengan lingkungan kontekstualnya; lebih luas lagi sebagai penggerak dan pelopor pembaharuan dan perubahan masyarakat dimana ia berada.
Gagasan model ini sebenarnya telah dikembangkan pola dasar pemikirannya semenjak awal pendirian PTPG sebagai miniatur LPTK di negeri ini, berdasarkan kajian komparatif dari negara-negara maju di antaranya USA, Australia dan Eropa. Dengan demikian, seorang guru yang dapat menyandang tugas profesional itu seyogiyannya:
Memiliki pengetahuan dan pengertian tentang pertumbuban jiwa manusia dari segala segi dan sendinya, demikian pula tentang proses belajar.
Memiliki pengetahuan dan pengertian tentang alam dan masyarakat, faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar khususnya dan pendidikan umumnya. Hal ini sangat penting bagi pembentukan dasar latar belakang kulturil untuk seorang guru meengingat kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat dimana ia mengabdi.
Menguasai sepenuhnya pengetahuan dan kepahaman tentang vak (bidang displin ilmu/studi) yang ia ajarkan.
Memiliki secukupnya pengetahuan dan pengalaman seni mengajar; hal ini hanya dapat diperoleh setelah mempelajari metodik dan didaktikteoritis maupun praktis, umum maupun khusus, termasuk praktek mengajar secukupnya.
Paling sedikit syarat-syarat umum tersebut harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya oleh mereka yang akan terjun dalam kalangan pendidikan dan pengajaran. Biar bagaimanapun juga pekerjaan mengajar adalah suatu “profession”, dan syarat-syarat umum tadi dengan segala pendidikan dan latihan yang diperlukan untuk memenuhinya,adalah akibat wajar yang lahir dari suatu“profession status”. Oleh karena itu, atas dasar syarat-syarat umum tersebut, susunan rencana pelajaran untuk pendidikan guru berpokok pada :
Pendidikan profesional ( untuk memenuhi syarat 1.1 dan 1.2 )
Pendidikan umum ( untuk memenuhi syarat 1.2 )
Pendidkan spesialis ( untuk memenuhi syarat 1.3 )
 Gagasan model ketiga ini ternyata amat selaras dengan dasar pemikiran yang berkembang di lingkungan UNESCO sebagaimana dikemukakan oleh Goble dalam bukunya The ChangingRoleof The Teacher, yang mengidentifikasikan beberapa kecenderungan perubahan-perubahan guru, yaitu:
Kecenderungan ke arah diversifikasi fungsi-fungsi proses pembelajaran dan peningkatan tanggung jawab yang lebih besar dalam pengorganisasian isi dari proses belajar mengajar.
Kecenderungan ke arah bergeseryatitik berat dari pengajaran yang merupakan pengalihan/transformasi pengetahuan oleh guru kepada proses belajar siswa, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan sumber-sumber belajar yang inovatif di lingkungan masyarakat.
Kecenderungan ke arah individualisasi proses belajar dan berubahnya struktur hubungan antara guru dan siswa.
Kecenderungan ke arah penggunaan teknologi pendidikan modern dan penguasaan atas pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
Kecenderungan ke arah diterimanya bentuk kerjasamayang diruang lingkupnya lebih luas bersama guru-guru yang mengajar di sekolah lain; dan berubahnya struktur hubungan antara para guru sendiri.
Kecenderungan ke arah kebutuhan untuk membina kerjasama yang lebih erat dengan orang tua dan orang lain di dalam masyarakat serta meningkatkan keterlibatan di dalam lingkungan masyarkat.
Kecenderungan ke arah di terimanya partisipasi pelayan sekolah dan kegiatan ekstrakulikuler.
Kecenderungan ke arah sikap yang menerima kenyataan bahwa otoritas tradisional dalam hubungannya dengan anak-anak telah berkurangterutama antara anak-anak yang lebih tua terhadap orang tuanya.
Guru yang berkewenangan berganda sebagal Pendidik Profesional dengan bidang keahlian lain selain kependidikan
Mengantisipasi kemungkinan terjadinya perkembangan dan perubahan tuntutan dan persyaratan kerja yang dinamis dalam alam globalisasi mendatang, maka tenaga guru harus siap secara luwes kemungkinan alih fungsi atau laih profesi jikadikehendakinya). Ide dasarnya adalah untuk memberi peluang alternatif bagi tenaga kependidikan untuk meraih taraf dan martabat hidup yang layak, tanpa berpretensi mengurangi makna dan martabat profesi guru, sehingga para guru sudah siap menghadapi persaingan penawaran jasa pelayanan profesional di masa mendatang.
(Mulyasa. (2011) Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.)


Kesalahan Yang Seringdilakukan Guru
(Saud, U,S. (2013). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta)

. Mengambil Jalan Pintas dalam Pembelajaran
Berbagai kasus menunjukkan bahwa di antara para guru banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukkan alasan yang mendasari asumsi itu. Asumsi keliru tersebut seringkali menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehingga banyak guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan,maupun evaluasi.
Guru harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa mengajar di sekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan, karena itu guru harus mendampingi pesert didik menuju kesuksesan belajar atau kedewasaan. Oleh karena itu, guru harus menentukan secara tepat jenis belajar yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai. Dalam kaitannya dengan perencanaan, guru dituntut untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien. Namun dalam kenyataannya, dengan berbagai alasan, banyak guru yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat persiapan ketika mau melakukan pembelajaran, sehingga guru mengajar tanpa persiapan. Mengajar tanpa persiapan, di samping merugikan guru sebagai tenaga profesional juga akan sangat mengganggu perkembangan peserta didik. Banyak perilaku guru yang negatif dan menghambat perkembangan peserta didik yang diakibatkan olch perilaku guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran.
Sebenarnya para guru menyadari bahwa persiapan memiliki peran penting dalam pembelajaran, namun masih banyak gu sering tidak membuat persiapan mengajar, khususnya persi tertulis. Ada kalanya guru membuat persiapan mengajar tertulis hanya untuk memenuhi tuntutan administratif, atau kepala sekolah karena akan ada pengawasan ke sekolahnya. Persiapan mengajar adalah suatu persiapan yang harus di buat guru untuk melakukan pembelajaran, bukan untuk disuguhkan kepada pengawas Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu sistem, yang jika salah satu komponennya terganggu, maka akan mengganggu seluruh sistem tersebut.


 Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negatif
Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif, sebaliknya perhatian yang negatif akan menghambat perkembang an peserta didik. Mereka senang jika mendapat pujian dari guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan atau diabaikan Namun sayang, kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar, mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan materi kepada peserta didik, mereka jug menganggap mengajar adalah memberikan sejumlah pengetahuan kepada peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah. Biasanya, guru baru memberikan perhatian kepada serta didik ketika ribut, tidak memperhatikan, atau mengantuk kelas, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk. Kondisi tersebut seringkali mendapat tanggapan yang salah dari peserta didik, mereka beranggapan bahwa jika ingin mendapat perhatian atau diperhatikan guru, maka harus berbuat salah, berbuat gaduh, mengganggu, dan melakukan tindakan indisiplin lainnya. Sering kali terjadi perkelahian pelajar, hanya karena mereka kurang mendapat perhatian, dan meluapkannya melalui perkelahian.
Guru perlu belajar untuk menangkap perilaku positif yang atas perilaku tersebut dengan perhatian dan pujian. Kedengarannya seperti hal yang sederhana , tetpi perlu upaya sungguh - sungguh untuk tetap mencari dan memberi hadiah atas individual. Kuncinya adalah bagaimana kita dapat memberikan perhatian yang proposional terhadap seluruh peserta didik, dan jangan menunggu peserta didik berbuat salah atau berperilaku buruk.
Sangat efektif jika pujian guru lansung diarahkan pada perilaku khusus daripada hanya diekspresikan dengan pernyataan positif yang sifatnya sangat umum Dalam kegiatan pembelajaran, khususnya dalam mengerjakan tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kelas, seringkali peserta didik tidak memiliki keterampilan atau pengetahuan yang memadai untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka

Guru harus memperhatikan perilaku-perilaku peserta didik yang negatif, dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut agar tidak terulang kembali. Guru bisa mencontohkan berbagai perilaku peserta didik yang negatif, misalnya melalui ceritera atau ilustrasi, dan memberikan pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku negatif tersebut. Sekali lagi, jangan menunggu peserta didik berperilaku negatif
 Menggunakan Destructive Discipline
Seperti alat pendidikan lain, jika guru tidak memiliki rencana tindakan yang benar, maka dapat melakukan kesalahan yang tidak perlu. Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang dilakukannya, tidak jarang guru yang memberikan hukuman melampaui batas kewajararn pendidikan (malleducatif), dan banyak guru yang memberikan  hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan uat Dalam hal itu, seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta didik di luar kela  (pekerjaan rumah), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan peserta didik dan mengembalikannya dengan berbagai komentar, kritik untuk kemajuan peserta didik. Yang sering dialami peserta didik adalah bahwa guru sering memberikan tugas, tetap memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang di kerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan penegakan disiplin yang destruktif (destructive dincipline),yang sangat merugikan perkembangan peserta didik. Bahkan tidak jarang tindakan destructive discipline vang dilakukan oleh guru menimbulkan masalah yang sangat fatal, yang tidak saja mengancam perkembangan peserta didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru.
Agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan disiplin beberapa hal yang perlu diperhatikan :
Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang
Gunakan disiplin secara tepat waktu dan tepat sasaran
Hindari menghina dan mengejek peserta didik .
Pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat
Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran
Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik
KesalahanBerikutnya yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Kita tahu bahwa setiap peserta didik memiliki perbedaan individual sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi, dan sering memperlihatkan sejumlah perilaku yang tampak anch. Pada umumnya perilaku-perilaku tersebut relatif normal, dan cukup bisa ditangani dengan menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi, karena guru di sekolah dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali kesulitan untuk mengetahui mana perilaku yang normal dan wajar, serta mana perilaku yang indisiplin dan perlu mendapat penanganan khusus Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbedea beda. Latar belakang keluarga, latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam aktivitas kreatifitas, intelegensi, dan kompetensinya. Guru seharusnya dapat mengidentifiknsi perbedaan individual peserta didik, dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi ciri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umum seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali. Seorang peserta didik yang aktif secara fisik mungkin bisa didorong untuk mengeksplorasikan dirinya melalui kegiatan olah raga Jika seorang peserta didik memperlihatkan minatnya terhadap musik, maka carilah berbagai cara untuk mendorongnya agar minatnya bisa berkembang secara optimal, demikian halnya anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas normal perlu diberi perhatian secara khusus.Sehubungan dengan uraian di atas, aspek-aspek peserta didik yang perlu dipahami guru antara lain kemampuan, potensi, minat kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah. Aspek aspek tersebut dapat dipelajari dari laporan dan catatan sekolah, informasi dari peserta didik lain (teman dekatnya), observasi langsung dalam situasi kelas, dan dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik itu sendiri, berdasarkan wawancara, percakapan dan autobiograpi

 Merasa Paling Pandai
Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah merasa paling pandai di kelasnya. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada usianya relatif lebih muda dari gurunya, sehingga guru menganggap bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh dibanding dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu diisi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan, karena sekarang ini peserta didik dapat belajar menggunakan berbagai media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya terutama di kota-kota, ketika peserta didik datang yang dirumahnya memiliki berbagai sarana, dan prasarana yang lengkap, serta berlangganan koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sementara guru belum memilikinya. Dengan demikian, dalam hal tertentu mungkin saja peserta didik yang belajar lebih pandai dari pada guru. Jika ini benar terjadi, maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat .
 Tidak Adil (Diskriminatif)
 Pembelajaran yang baik dan efektif adalah yang mampu memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran merupakan kewajiban guru dalam pembelajaran, dan hak peserta didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangan peserta didik, dan ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, terutama dalanm penilaian. Penilaian merupakan upaya untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik sesuai dengan usaha yang dilakukannya elama proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam memberikan penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari perilaku peserta didik. Namun demikian, dalam pelaksanaannya tidak sedikit guru yang menyalahgunakan penilaian, misalnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau bahkan sebagai ajang untuk menyalurkan kasih sayang di luar tanggung jawabnya sebagai guru.

Sebagai guru, tentu saja harus mampu menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan perkembangan peserta didik. Tidak ada yang melarang seorang guru "mencintai" peserta didiknya, tetapi bagaimana menempatkan cintanya secara proporsional, dan jangan mencampuradukkan  antara urusan pribadi dengan urusan profesional.Usaha yang dapat dilakukan untuk menghindarinya lain dengan cara menyimpan "perasaan" sampai peserta didik yang dicintai menyelesaikan program pendidikannya, ikhlas dan jangan takut di ambil orang
 Memaksa Hak Peserta Didik
Memaksa Hak peserta didik dilakukan guru, sebagai akibat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Guru boleh saja memiliki pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya, tetapi tindakan memaksa bahkan mewajibkan peserta didik untuk membeli buku tertentu sangat kurang bisa digugu dan ditiru. Sebatas menawarkan boleh saja, tetapi kalau memaksa kasihan bagi orang tua yang tidak mampu. Kondisi semacam ini seringkali membuat frustasi peserta didik.
Di dunia gaji tidak seberapa, jangan kotori keuntungan nkhirat dengan menodai profesi. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak di akhirat Percayalah, dan tanyakan pada hati nurani. Jangan mengambil keuntungan sesaat tetapi menyesatkan.










BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan. Tanpa guru pendidikan tidak akan berjalan. Ada beberapa peran yang harus dilakukan oleh seorang guru diantaranya adalah guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, innovator, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pemindah kemah, emansipator.
Selain peran guru, ada beberapa kesalahan yang sering dan terkadang tidak disadari oleh guru antara lain, mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, menunggu peserta didik berperilaku negatif, menggunakan desctructive discipline, mengabaikan perbedaan peserta didik, merasa diri paling pandai, tidak adil, dan memaksa hak peserta didik. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh guru seharusnya diperbaiki. Guru harus bisa merefleksikan diri tentang apa yang dia lakukan pada peserta didik. Selalu menyadari akan kekurangan diri dan siap dikritik merupakan salah satu cara untuk membangun pendidikan menjadi lebih baik. Jangan selalu merasa diri hebat dan benar. Jadilah pribadi guru yang selalu ingin maju baik dari segi intelek maupun moral.
3.2 Saran
Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sadar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harapkan saran dan kritiknya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah selanjutnya.



















DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa. (2011) Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Saud, U,S. (2013). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta
http://rudisiswoyo89.blogspot.com/2013/11/makalah-peranan-guru-dalam-proses.html?m=1


Pertanyaan
1.Khamalnah : Hal apa yang dilakukan guru tentang ramalan bonus demografi 2030?
Jawab : Bonus demografi itu sendiri merupakan suatu fenomena, di mana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan. Sebab jumlah penduduk usia produktif itu lebih besar, sementara proporsi usia muda semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Sebagai guru kita harus mempersiapkan peserta didik yang mempunyai ketrampilan dan pengetahuan lebih untuk menghadapi bonus demografi tersebut sehingga mampu memanfaatkan keadaan tersebut yang dapat memajukan bangsa kita.
2. M. Mufti Sadewa :Bagaimana cara menghadapi murid yang kurang aktif?
Jawab : Cara menghadapi murid yang kurang aktif yaitu dengan cara di dekati, baik didekati dalam pembelajaran ataupun yang lainnya misalnya dalam pembelajaran di kelas sebelum memulai pembelajaran di kasih ice breaking biar siswanya tertarik ke materi, Memberi materi lalu di kasih soal dari tahap yang mudah dulu ke tahap yang lebih sulit.
3. Winurwito : Bagaimana cara menutupi kelemahan yang dimiliki siswa?
Jawab : dalam menutupi kelemahan siswa dapat dilakukan oleh guru dengan cara menggali potensi yang dimiliki oleh siswa.
4. Nofia Septiani : Bagaimana sikap yang baik ketika menjumpai kesalahan guru, konsekuensi apa, persiapan agar menjadi guru yang lebih baik?
Jawab :  Sikap ketika menjumpai kesalahan guru dengan cara menegur langsung atau siswa lapor ke guru BK atau Kepala sekolah agar bisa di tegur langsung, konsekuensi bisa di tegur secara lisan, Persiapan agar menjadi guru yang lebih baik yaitu memiliki empat kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional.
5. Nur Rokhisah : Bagaimana sikap kita ketika menemukan seorang guru yang selalu menyalahkan anak didiknya?
Jawab : Menurut kami, dalam menyikapi keadaan tersebut haruslah bertanya terlebih dahulu dengan guru yang bersangkutan, kenapa selalu menyalahkan muridnya, ketika sudah mengetahui akar permasalahannya, barula kita memberika saran yang tepat tanpa menyinggung perasaannya.
6. Nailil Hadziqoh : Bagaimana cara mengetahui guru berbuat salah?
Jawab : ketika kita sebagai guru maka yang harus dilakukan yaitu mengevaluasi setiap perkataan ataupun perbuatan kita, apakah itu sebuah kebaikan atau justru sebuah perbuatan yang salah,
Kemudian ketika kita melihat ada guru yang berbuat salah, maka alangkah baiknya dengan cara menegurnya secara baik baik tanpa menyakiti perasaan guru tersebut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar